Kisah Polisi Batal Menangkap Pencuri Susu dan Membayari Barang yang Dicuri, Ini Cerita di Baliknya

Kisah Polisi Batal Menangkap Pencuri Susu dan Membayari Barang yang Dicuri, Ini Cerita di Baliknya

Ini cerita seorang anggota polisi yang akan menangkap seorang pencuri susu. Tetapi karena terenyuh dengan kondisi pelaku, anggota polisi di Pekalongan ini urung menangkapnya, justru kembali ke lokasi pencurian dengan membayari susu yang diambil dan menambahi membelikan susu untuk sang pencuri tersebut. Sebuah video berdurasi sekitar 5 menit 18 detik yang diunggah pertama kalinya oleh akun PoLenTir Channel membuat kalangan nitizen iba.

Bahkan, video tersebut viral di sosial media beberapa hari yang lalu. Dalam video tersebut, seorang polisi dari Polsek Pekalongan Selatan yang berpakaian olahraga, baru saja mengamankan dan mengintegrasi seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai penjual es gepeng di sebuah minimarket yang ada di Jalan Hos Cokroaminoto Kuripan Lor, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan. Didalam video tersebut, pria paruh baya tersebut mengaku semula ingin membeli susu untuk kedua anak balitanya di rumah.

Namun, karena uangnya tidak cukup terpaksa mengambil susu tanpa membayar. Mengetahui kondisi keluarga ini ternyata cukup memilukan, akhirnya polisi tersebut tidak jadi memproses hukum. Namun, justru menebus susu yang diambil dan bahkan polisi tersebut juga menambah membelikan susu sebanyak tiga untuk dibawa pulang pria tersebut.

Aksi yang dilakukan oleh polisi tersebut, membuat para netizen baper dengan apa yang sudah dilakukannya. Pria yang berinisial, HR (51) warga Baros, Kecamatan Pekalongan Timur tersebut tidak ada di rumahnya. Dari keterangan istri HR, bahwa suaminya masih bekerja dan pulangnya sore.

Pria penjual es gepeng ternyata sudah berada di rumah. Kedatangan Bripka Windo ke rumah penjual es gepeng, membuat ketiga anak pria tersebut senang dan bahagia. Bahkan, salah satu anak dari pria penjual es gepeng berumur 2 tahun yang pada saat itu masih digendong ibunya, langsung, meminta untuk digendong Bripka Windo.

"Saat itu saya kepikiran, susu anak saya di rumah sudah habis. HR mengungkapkan susu itu untuk diminum anaknya yang berumur 10 bulan dan dua tahun. "Waktu saya mengambil susu tersebut, uang hasil jualan es gepeng saya Rp 45 ribu dan harganya susu satu kotak berukuran 400 gram harganya Rp 37 ribu."

"Apabila, saya belikan susu semua. Untuk makan anak dan istri saya serta modal untuk berjualan tidak ada," ungkapnya. Dirinya mengatakan ia baru pertama kali mengambil susu di sebuah minimarket.

"Saya tahu tindakan yang dilakukan salah. Saya khilaf dan sangat malu sekali pak," tuturnya. HR berjualan es gepeng ini sudah lima tahun.

Apabila, tidak mempunyai modal untuk membuat es gepeng, ia menjual es milik temannya. Setiap hari, ia berjuaaln es gepeng muter muter di Kota Pekalongan. "Seminggu ini, saya tidak mempunyai modal untuk membuat es gepeng sehingga harus menjual es milik temannya."

"Hasilnya, nanti dibagi dua. Dari teman, 1 potong es dihargai Rp 1 ribu, lalu saya jual Rp 2 ribu," jelasnya. Saat disingung, apakah ada bantuan dari pemerintah yang diterima keluarga, ia mengatakan bantuan pemerintah yang diterima hanya kesehatan, yang lainnya belum pernah ada.

"Saya mempunyai anak tiga, umur 10 tahun, 2 tahun, dan 10 bulan. Bantuan PKH dan pendidikan dari pemerintah belum pernah didapat." "Saya sudah pernah mengusulkan, namun tidak ada respon dari pihak pemerintah.

Saya, juga kadang merasa iri hati melihat tetangga yang sudah mampu tapi menerima bantuan," ujarnya. Dihadapan Bripka Windo, HR berjanji kepada istrinya tidak akan mengulangi lagi tindakan yang sudah dilakukannya. "Saya sudah berjanji.

Walaupun saya tidak mempunyai uang, saya tidak akan melakukan tindakan itu kedua kalinya. Saya sangat malu sekali." "Saya, ucapkan terimakasih kepada Bripka Windo yang selalu membantu dan memberikan susu untuk kedua anak saya," tambahnya. "Kronologis saat itu, saya sedang melakukan pelayanan SKCK di Polsek Pekalongan Selatan.

Tiba tiba saya ditelpon oleh istri saya, melihat seorang pria paruh baya mengambil satu kardus susu berukuran 400 gram dimasukkan kedalam tas pria tersebut." "Melihat kejadian tersebut, istri saya melaporkan dan memberikan informasi peristiwa kejadian tersebut ke salah satu pegawai minimarket," kata Bripka Windo. Setelah dicek memang benar, didalam tas HR ada satu kerdus susu bayi.

Pihaknya, menginterogasi HR di ruang belakang minimarket. Dalam keterangannya HR mengaku baru pertama kali melakukan tindakan tersebut. "HR menjawab baru pertama kali mengambil susu.

Dari keterangan, HR mengambil susu tersebut karena ingat susu anaknya yang di rumahnya sudah habis, sedangkan uang yang didapatkan dari hasil berjualan es hanya Rp 45 ribu." "Uang Rp 45 ribu tersebut digunakan untuk membeli bahan baku es gepeng," ungkapnya. Kemudian, pihaknya juga menanyakan susu yang HR ambil, untuk campuran bahan baku es atau benar benar untuk anaknya.

"HR menjawab, kalau susu yang diambil benar benar untuk anak. HR juga mengatakan kalau tidak percaya datang di rumah, jika tidak ada anak balita saya siap digorok kepalanya," tuturnya. Guna membuktikan ucapan HR, pihaknya bersama salah satu pegawai minimarket datang ke rumah HR.

Sebelum berangkat ke rumah HR, pihaknya menyempatkan membeli tiga kotak susu. "Kebetulan saat itu, di saku celana saya hanya ada uang Rp 110 ribu. Saya membelinya, untuk dibawa dan akan di serahkan ke anak HR jika memang benar ada balita."

"Ternyata, memang benar di rumah ada bayi umur 6 bulan dan 1,5 tahun lagi tidur. Lalu, saya serahkan susu tersebut kepada HR," ujarnya. Kemudian, pihaknya mengajak HR kembali ke minimarket untuk meminta maaf kepada pegawai minimarket.

Saat disinggung mengenai hukuman yang diterapkan, pihaknya sengaja tidak membawa HR ke Polsek, karena ia lebih mengedepankan asas kemanusiaan. "Saya melihat langsung kondisi keadaan yang sebenarnya. Lalu, tindakan yang dilakukan HR adalah pencurian ringan dan masih diatasi secara kekeluargaan."

"Melihat hal itu, hati nurani saya tersentuh yang melihat seorang bapak rela mengambil susu untuk kelangsungan hidup anaknya," pungkasnya. Bripka Windo juga berpesan kepada HR untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. "Sampai hari ini, komunikasi saya dengan HR terus terjaga.

Bahkan, saya menganggap HR seperti bapak saya sendiri," tambahnya. (Indra Dwi Purnomo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *