AS Pindahkan Sistem Pertahanan Rudal ke Irak setelah Muncul Serangan Milisi yang Didukung Iran

AS Pindahkan Sistem Pertahanan Rudal ke Irak setelah Muncul Serangan Milisi yang Didukung Iran

Amerika Serikat memindahkan sistem pertahanan rudal ke Irak setelah adanya seranganmilisi yang didukung Iran beberapa waktu lalu. Kini pasukan AS dan sekutu telah dilindungi dengan sistem pertahanan udara baru di pangkalan militer Irak. Mengutip peluncur rudal Patriot dan dua sistem serangan jarak pendek lainnya sekarang berada di Pangkalan Udara al Asad.

Al Asad merupakan lokasi di mana Iran melakukan serangan rudal balistik besar besaran terhadap AS dan pasukan koalisi pada Januari 2020. Selain itu, pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatatakn, Iran juga menyerang pangkalan militer AS di Irbil. Dari penuturannya dketahui, sistem pertahanan roket jarak pendek dipasang di Camp Taji.

Secara bertahap, militer memindahkan sistem pertahanan ke Irak selama beberapa bulan terakhir untuk memberikan lebih banyak perlindungan bagi pasukan yang sebelumnya melihat serangkaian serangan rudal. Setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik besar besaran terhadap pasukan AS di al Asad pada Januari 2020, muncul pertanyaan tentang kurangnya sistem pertahanan udara di pangkalan pangkalan tersebut. Sebelum serangan rudal, para pemimpin militer AS tidak percaya sistem pertahanan diperlukan di sana.

Seperti diketahui, bebeda dari lokasi lain di seluruh dunia, serangan udara sering terjadi di wilayah tersebut. Kini, sistem pertahanan tersebut telah beroperasi. Pejabat tinggi AS memperingatkan bahwa ancaman dari kelompok proxy Iran akan terus berlanjut.

Beberapa roket menghantam di dekat situs perusahaan jasa ladang minyak AS di Irak selatan minggu ini. Serangan tersebut adalah yang pertama dalam beberapa bulan terakhir dengan menargetkan kepentingan energi AS. Diketahui, orang AS telah meninggalkan lokasi itu sebelum diserang dengan rudal.

Lebih jauh, Presiden AS Donald Trump awal pekan lalu mengatakan, pemerintahannya telah menerima informasi bahwa Iran merencanakan serangan. Meski tidak memberikan rincian lebih lanjut, Donald Trump lantas memperingatkan Iran dalam unggahan Twitternya. Jika pasukan AS diserang oleh Iran, "Iran akan membayar harga sangat mahal," tegas Trump.

Pada awal Januari 2020, AS melancarkan serangan udara di Baghdad yang menewaskan perwira militer paling tinggi Iran, Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al Muhandis, pemimpin milisi yang didukugn Iran di Irak. Selanjutnya, Kataib Hezbollah, satu di antara milisi tersebut telah bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap AS, Irak dan pasukan koalisi. Pembunuhan Soleimani itu pun memicu serangan rudal balistik Iran.

Serangan tersebut mengakibatkan 100 tentara AS mengalami cedera otak traumatis. Lebih jauh, perseteruan AS dan Iran mengingatkan kembali dengan kesepakatan nuklir. Seperti diketahui, Donald Trump telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 lalu dan menerapkan sanki terhadap Iran.

Mengutip dari sanki AS terhadap Iran kini telah dilonggarkan atau dicabut berdasarkan ketentuan dan kesepakatan. Akhir bulan lalu, pemerintah menjatuhkan sanksi terhadap 20 orang dan perusahaan Iran karena mendukung milisi Syiah yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *