Kenang Didi Kempot sebagai Guru Panutan, Sruti Respati: Jejak Karyanya akan Selalu Dikenang

Kenang Didi Kempot sebagai Guru Panutan, Sruti Respati: Jejak Karyanya akan Selalu Dikenang

Penyanyi keroncong asal Solo, Sruti Respati, mengenangsosok maestro musik campursari Didi Kempot. BagiSruti,Didi Kempot merupakan sosok guru panutan. Ia meyakini, jejak karya sang maestro akan selalu dikenang dalam peta kebudayaan Indonesia dan dunia.

"Nama, kenangan, dan jejak karya karya kreatifnya akan selalu dikenang dalam peta kebudayaan Indonesia dan dunia," tambahnya. Menurut Sruti, Didi Kempot merupakan sosok berkepribadian ramah. Selain itu, Sruti mengatakan, Sang Maesto juga sosok yang tidak pelit ilmu serta rendah hati.

Ia mengaku banyak mendapat masukan dari Didi Kempot soal karir bermusiknya. Bahkan, saran Didi Kempot sejak Sruti mengawali karir bermusik masih ia pegang hingga saat ini. "Di mata saya, beliau adalah sosok yang ramah, tidak pelit ilmu, dan rendah hati," kata Sruti.

"Banyak saran saran dan masukan dari beliau dalam bermusik di awal karir bernyanyi saya, yang masih saya pegang dan terapkan hingga saat ini," tambahnya. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Didi Kempot meninggal dunia pada Selasa, sekitar pukul 07.45 WIB di Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta. Dilansir dari Kompas TV, Didi Kempot dikabarkan meninggal dunia karena gagal jantung.

Sebelumnya, Didi Kempot diketahui menjalankan serangkaian kegiatan hingga mengalami kelelahan dan sempat dirawat. Jenazah Maestro Didi Kempot mulai diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya, diTPU Dukuh Jatisari, Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada sekitar pukul 14.35 WIB. Para pelayat mengikuti mobil ambulans menuju tempat peristirahatan terakhir Sang Maestro dengan berjalan kaki.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang turut mengiringi jenazahdengan bergabung bersama pelayat lainnya. Diberitakan sebelumnya, makam Didi Kempot berjarak sekitar 400 meter dari rumah duka yang berada di Dukuh Pentuk Pelem, Desa Majasem. Kepala Desa Majasem, Nur Muhammadi mengatakanjenazah Didi Kempot dimakamkan di samping pusara jenazah putri kandungnya.

"Namanya Lintang Ayutyas Prastri," ujarnya. Lintang diketahui meninggal dunia pada 25 Oktober 1995 di usia yang belum genap satu tahun. Nur Muhammadi mengungkapkan pekan lalu Didi Kempot sempat pulang ke Ngawi.

"Sekitar empat hari yang lalu," ujarnya. Nur Muhammadi juga mengungkapkan Didi Kempot memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Desa Majasem. "Sering kasih donasi buat Karang Taruna," ujarnya.

Ketika di rumah, Didi Kempot disebut layaknya warga biasa. "Rendah hati dan akrab dengan masyarakat," ungkapnya. Protokol penanganan penyebaran Covid 19 tetap dilakukan di kediaman rumah duka Didi Kempot di Desa Majasam, Kecamatan Kendal, Ngawi.

Para pelayat wajib memakai masker, mencuci tangan, dan diperiksa suhu tubuhnya saat akan memasuki rumah duka. Tampak tulisan 'wajib memakai masker' ditempel di beberapa dinding dekat rumah almarhum Didi Kempot. Selain itu, telah tiba empat orang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dan Puskesmas Kendal.

Mereka berjaga di depan pintu masuk dan memeriksa setiap pelayat yang datang. Para petugas kesehatan melakukan pengecekan suhu tubuh setiap pelayat. Pantauan di lapangan, saat ini ratusan pelayat telah merapat ke rumah duka.

Bukan hanya warga sekitar, tetapi juga Sobat Ambyar sebutan untuk penggemar Didi Kempot. Jenazah Didi Kempot saat ini sedang dalam perjalanan dari Solo menuju rumah duka. Paman Didi Kempot, Sukur mengungkapkan alasan kenapa Didi Kempot dimakamkan di Desa Majasem.

Tak lain, karena istri Didi Kempot yang meminta sang suami dimakamkan di Desa Majasem. "Rumah di Desa Majasem adalah rumah jujukan (tujuan), ini kan rumah istrinya," kata Sukur. Sementara rumah di Kedunggalar adalah rumah milik orangtua Didi Kempot.

Diketahui, Didi Kempot memang lahir di Dusun Sidowayah, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Sukur menjelaskan, di Kedunggalar terdapat makam Mamiek Prakoso yang merupakan pelawak sekaligus kakak Didi Kempot. "Di Kedunggalar memang ada makam kakaknya Mamiek, tapi kami minta Didi Kempot dimakamkan di sini," ujar Sukur.

Selain itu, Sukur mengatakan, Didi Kempot tak pernah mengaku sakit. Saat pulang ke rumah pun, pelantun lagu Stasiun Balapan itu hanya mengeluh capek. "Makanya kami kaget, tidak tahu kabar meninggal, karena tadi pagi sekitar jam 7, saya masih berada di sawah," ujar Sukur.

Hal senada juga disampaikan Madi, paman almarhum Didi Kempot lainnya. Madi mengaku kaget dengan meninggalnya Didi Kempot yang begitu cepat. Bahkan dia tidak akan mengetahui kabar itu jika tak nonton televisi.

"Kalau tidak nonton televisi kami keluarga tidak akan tahu dia meninggal dunia. Semua yang ada di sini kaget," katanya. Madi lantas mengenang kalimat mendiang saat terakhir pulang ke Ngawi, Jawa Timur. Pada Madi, Didi Kempot mengaku sudah merasa tua.

"Terakhir dia pulang ke sini cukup lama, saya sudah lupa waktunya." "Saat itu dia bilang sudah merasa tua," kata Madi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *