Kontribusi BRI dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan ekosistem digitalnya berkomitmen akan mendorong pertumbuhan kredit di masyarakat guna mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan perbankan pada masa krisis saat ini yang disebabkan oleh pandemi Covid 19 sebenarnya tidak sedang kesulitan likuiditas, terutama bank bank BUKU IV yang masih mengalami pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) double digit. Menurut Sunarso, justru tantangan yang dihadapi pada masa pandemi Covid 19 saat ini adalah lebih mendorong permintaan kredit itu sendiri. Untuk itu pemerintah memberikan berbagai stimulus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Likuiditas sebenarnya mungkin bukan sesuatu yang challenging , bukan tantangan yang besar. Namun, memang tantangannya bagaimana menumbuhkan permintaan kredit, karena itu BRI menargetkan tetap bisa mendorong pertumbuhan kredit,” ujar Sunarso dalam diskusi virtual Ngopi BUMN “Penyaluran Kredit Modal Kerja dan Penjaminannya dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional,” Rabu (26/8/2020). Pemerintah sejak 4 bulan lalu, lanjut Sunarso, telah memiliki berbagai program stimulus untuk memulihkan ekonomi nasional dan dalam 2 bulan terakhir melakukan sinkronisasi, integrasi dan simplifikasi kebijakan kebijakan sehingga lebih mudah dieksekusi. Terbukti dari simplifikasi kebijakan itu (PMK 70 dan PMK 104), dana yang ditempatkan pemerintah di bank bank Himbara sebesar Rp30 triliun, di mana Rp10 triliun ditempatkan di BRI, disalurkan dalam bentuk kredit yang di laverage 3 kali lipat dalam waktu 3 bulan.

“Kami berkomitmen bisa disalurkan, kuncinya data, sistem yang kita bangun kredibel, dan dikomunikasikan, ternyata tidak sampai 3 bulan tercapai. Contohnya BRI, terima deposito dari pemerintah tanggal 25 Juni, dan pertama kali mencapai angka Rp 30 triliun pada 7 Agustus lalu,” paparnya. Hingga 26 Agustus 2020, BRI telah menyalurkan kredit dari penempatan uang negara sebesar Rp39,9 triliun kepada 947 ribu debitur. Dengan realisasi tersebut, artinya kemampuan BRI untuk menyalurkan dana yang ditempatkan pemerintah dalam rangka PEN ke pelaku UMKM, rata – rata per hari sebesar Rp 950 miliar – Rp 970 miliar.

“Di sebelah ruangan saya dulu ada war room , saya ganti semacam west wing, itu isinya layar monitor ( dashboard ) semua, untuk memonitor pergerakan setiap detik orang mencairkan kredit,” ungkap Sunarso. Dia menegaskan bahwa meskipun diawasi dari seluruh stakeholder, Bank – Bank Himbara semakin terdorong untuk berkomitmen dalam membangun sistem yang baik dan reliable . “Sebagai BUMN kami tidak kerja main main, kami kerja serius. Untuk melaksanakan program program seperti ini. Sistem itu penting, kita bangun sistem, kita kerja berdasarkan data dan komunikasikan ke masyarakat dengan bahasa yang simpel,” tukasnya.

Dalam mengakselerasi permintaan kredit, BRI mengoptimalkan ekosistem digital, ekosistem pasar dan ekosistem bisnis yang dibangun perseroan sehingga mendukung visi BRI untuk go smaller , go faster dan go shorter . Adapun sumber sumber pertumbuhan kredit BRI, salah satunya yakni perseroan komitmen untuk mencapai target full penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditetapkan oleh Pemerintah sebesar Rp120,2 triliun pada tahun ini. “Saya yakin kami optimistis bisa mencapai target, kalau ditambah KUR Super Mikro pasti target BRI bertambah, mau ditambah Rp20 triliun berarti target KUR BRI sebesar Rp140,2 trliun, sanggup tidak BRI? Jangan ada kata tidak sanggup,” ujarnya.

KUR Super Mikro mempunyai limit kredit Rp10 juta, dana berasal dari bank dengan menghimpun dana dari masyarakat kemudian disalurkan kepada nasabah baru. Seluruh bunga disubsidi Pemerintah sehingga bunga KUR nol persen dan nasabah hanya membayar pokok. Program KUR Super Mikro dengan total anggaran Rp12 triliun akan diimplementasikan pada akhir Agustus 2020 guna mendorong percepatan pemulihan ekonomi pada triwulan III 2020. Ketentuan tersebut telah diteken oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto. Lebih lanjut, Sunarso menambahkan terkait program hibah Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM), untuk tahap pertama BRI telah menyalurkan kepada 683 ribu orang dengan nilai sebesar Rp1,64 triliun. BRI menjadi lembaga penyalur BPUM terbesar di Indonesia.

Dalam mengakselerasi penyaluran BPUM, BRI mengoptimalkan reliabilitas data yang dimiliki perseroan sebagai hasil dari transformasi digital. Data tersebut terkait rekening nasabah dengan kriteria saldo tabungan kurang dari Rp2 juta dan tidak sedang mendapat kredit. Data tersebut dikirim ke Kementerian UMKM dan Koperasi untuk validasi. Syarat utamanya adalah calon penerima bantuan menyatakan sanggup menggunakan dana bantuan Rp2,4 juta itu untuk usaha produktif. “Dana langsung dikredit oleh BRI ke rekening penerima dan tidak boleh ada yang melakukan pungutan sepeser pun, dengan alasan apapun. Kalau sistem disiapkan mestinya tidak ada potongan apapun. Tidak boleh ada pungutan apapun mengatasnamakan siapapun untuk urusan itu, terutama yang melalui BRI,” tutup Sunarso.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *